Kamis, 24 Januari 2013

Kebudayaan Batak Toba



TORTOR
Kebudayaan daerah adalah salah satu identitas dari daerah tersebut. Salah satu kebudayaan Batak Toba (Sumatera Utara) adalah tarian daerah. Tarian daerah dari Sumatera Utara adalah tortor, dan orang yang menari(penari) disebut panortor. TORTOR adalah warisan leluhur dari zaman dahulu yang masih ada hingga saat ini. Setiap gerakan dari tortor tersebut memiliki arti atau makna.
Dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, Tortor berhubungan erat  dengan upacara adat, upacara ritual, maupun untuk hiburan. Pada zaman dahulu, tortor selalu dikaitkan dengan  penyembahan roh – roh berhala.
 Tortor menggambarkan pengalaman hidup orang Batak dalam kehidupan keseharian, gembira atau senang, bermenung, berdoa, menyembah, menangis, bahkan keinginan dan cita-cita maupun harapan  tergambar dalam tortor.
Tortor adalah tarian seremonial yang secara fisik  merupakan tarian namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya  menunjukkan tortor adalah sebuah media komunikasi, karena melalui media  gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara  partisipan upacara (Purba,  2004:64).
Tortor adalah “seni tari dengan menggerakkan seluruh badan dengan dituntun irama gondang, dengan pusat gerakan pada tangan dan jari, kaki dan telapak kaki/punggung dan bahu.” (Malau, 2000: 215)
 “Setiap gerakan pada Tortor Batak yang berekspresi disebut urdot. Mangurdot berarti menggerakkan badan dan anggota tubuh secara ekspresif. Urdot ini dilakukan sesuai dengan iringan gondang. Gondang dan Tortor adalah perpaduan bunyi dan gerak tubuh yang sedang dibawakan.” (Lumbantobing, 1968: 120).
Gerakan tortor ada empat, yaitu
1.      Pangurdot, yang termasuk pangurdot dari organ – organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu.
2.      Pangeal, yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/sasap.
3.      Padenggal, yang termasuk padenggal dari organ tubuh adalah tangan,daun tangan sampai jari – jari tangan.
4.      Siangkupna, yang termasuk siangkupna adalah leher.
Dahulu pada saat manortor (menari), selalu diiringi dengan (musik tradisional) gondang. Sehingga banyak orang mengatakan bahwa tor – tor  dengan gondang, ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan.
Walaupun Tari Tortor dan Margondang selalu berkaitan dan takkan pernah pisah dalam suatu acara adat . Akan tetapi Margondang sendiri punya pengklasifikasian dari mulai di temukannya Margondang tersebut.
Secara umum dikalangan masyarakat Batak Toba, ensambel gondang hasapi dan gondang sabangunan selalu disertakan dalam setiap upacara, baik upacara adat maupun upacara religi.Upacara yang menyertakan gondang dalam pelaksanaannya di sebut dengan margondang (memainkan gondang ). Hal tersebut diatas merupakan suatu persepsi yang utuh tentang peranan gondang yang sangat esensial dalam upacara adat maupun religi. Pada dasar kegiatan margondang pada masyarakat batak dapat dikalisifikasikan menurut zamannya , yaitu margondang pada masa purba dan margondang pada masa sekarang.

Unsur - unsur Kebudayaan

Kebudayaan juga memiliki unsur - unsur yang bersifat universal. Artinya bahwa unsur - unsur itu dimiliki oleh semua kebudayaan masyarakat atau suku bangsa yang ada di muka bumi ini. Unsur- unsur kebudayaan yang dimaksudkan itu adalah :
  1. Sistem Religi dan upacara keagamaan
  2. Sistem organisasi Kemasyarakatan
  3. Sistem Pengetahuan
  4. Bahasa
  5. Kesenian
  6. Sistem Mata Pencaharian
  7. Sistem Teknologi
Lapisan Budaya
lapisan luar yang paling mudah berubah dibandingkan dengan unsur lapisan dalamnya. hal ini sudah merupakan empirik yang dapat diamati masyarakat, pemilik kebudayaan akan lebih mudah beradaptasi terhadap sistem peralatan. yang ada pada unsur lapisan yang paling luar
Kebudayaan adalah Identitas dari
 pemilik budaya itu Sendiri.